Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia, dan industri ini bergerak cepat untuk menangkap metana dari limbah cair pabrik kelapa sawit (POME) — dengan dukungan kuat dari BRIN, GAPKI, dan Asosiasi Biogas Indonesia (ABGI). Namun, dorongan yang sama ini akan segera memunculkan masalah kedua: amonia terkonsentrasi dalam digestat yang tertinggal setelah penangkapan metana berhasil dilakukan.
Dengan sekitar 600 pabrik di seluruh negeri dan kira-kira 125 juta ton POME yang dihasilkan setiap tahun, sektor kelapa sawit Indonesia merupakan salah satu sumber daya biogas terbesar yang belum tergarap di dunia. Seiring lagoon terbuka digantikan secara bertahap oleh digester anaerobik tertutup untuk menangkap metana tersebut, pabrik-pabrik sedang menyelesaikan masalah emisi dan energi yang nyata. Akan tetapi, digesti anaerobik justru mengonsentrasikan nitrogen amoniakal, bukan menghilangkannya.
Mengapa Anaerobic Digestion Mengonsentrasikan Amonia, Bukan Menghilangkannya
POME mengandung nitrogen organik dalam jumlah besar — protein dan senyawa nitrogen lain yang terbawa dari proses pengolahan buah. Selama digesti anaerobik, penguraian mikroba mengubah sebagian besar nitrogen organik ini menjadi nitrogen amoniakal (NH4+/NH3).
Berbeda dengan karbon yang keluar dari sistem sebagai biogas, nitrogen tidak memiliki jalan keluar serupa; ia tetap berada dalam fase cair.
Selain itu, saat digester mengurangi volume cairan lewat pemisahan padatan dan dewatering, nitrogen tersebut semakin pekat dalam air reject dan digestat yang tersisa. Akibatnya, muncul aliran cairan yang bisa membawa beban amonia-nitrogen hingga ribuan mg/L. Beban ini jauh melampaui kapasitas infrastruktur pengolahan berbasis kolam di kebanyakan pabrik, sebab infrastruktur tersebut dirancang puluhan tahun sebelum digesti anaerobik menjadi bagian dari sistem.

Masalah yang Berbeda dari Limbah Kota
Digestat POME berbeda dari digestat lumpur limbah kota dalam satu hal penting: kandungan fosfornya secara proporsional lebih rendah dibanding beban nitrogennya.
Hal ini penting secara praktis, sebab artinya presipitasi struvite (teknologi pemulihan nutrien yang sering dibahas untuk limbah kota) kurang cocok diterapkan di sini. Tanpa fosfor yang cukup, kristalisasi struvite tidak dapat menangkap porsi amonia yang signifikan. Oleh karena itu, pemulihan nitrogen secara spesifik, bukan proses berbasis fosfor, menjadi teknologi yang paling sesuai untuk POME.

Mengapa Ini Penting Sekarang, Bukan Nanti
Komentar industri mengenai perkembangan biogas POME di Indonesia mencatat bahwa penerapannya saat ini masih tertahan sebagian, karena belum adanya kerangka regulasi nasional yang mengikat khusus untuk biogas POME. Namun, kondisi ini diperkirakan berubah seiring sektor ini berkembang. Polanya mengikuti apa yang sudah terlihat pada regulasi lindi TPA (Permen LHK No. 59/2016) dan standar umum limbah industri (Permen LH No. 5/2014, yang sudah mencakup lampiran sektor kelapa sawit untuk parameter BOD, COD, dan minyak-lemak).
Seiring infrastruktur biogas menjadi standar di industri ini, persyaratan khusus amonia untuk digestat menjadi ekspektasi yang wajar dalam arah regulasi saat ini. Dengan demikian, pabrik yang memasang kapasitas digesti anaerobik tanpa merencanakan sisi amonia berisiko menciptakan celah kepatuhan pada investasinya sendiri. Padahal, masalah ini jauh lebih murah diselesaikan sejak tahap desain.
Peluang Pemulihan : OTAR (Organics Thermal Ammonia Recovery)
Amonia yang dipisahkan dari digestat POME tidak harus dibuang begitu saja. Bergantung pada konfigurasinya, OTAR® dapat memulihkannya sebagai ammonium hidroksida, atau — yang relevan khusus untuk Indonesia — sebagai ammonium sulfat (ZA), pupuk yang sudah didistribusikan secara nasional lewat program pupuk bersubsidi Pupuk Indonesia. Saat ini, produksi pupuk nitrogen domestik Indonesia hanya memenuhi sebagian kecil dari kebutuhan nasional.
Oleh sebab itu, pabrik yang memulihkan nitrogennya sendiri sebagai ammonium sulfat bukan hanya menyelesaikan masalah kepatuhan. Pabrik tersebut juga turut berkontribusi, meski dalam skala kecil, pada upaya pemerintah memperkuat pasokan pupuk domestik.

Mengintegrasikan dengan Infrastruktur Biogas yang Sudah Ada
Bagi pabrik yang sudah berinvestasi pada infrastruktur biogas, menambahkan pemulihan amonia pada tahap dewatering digestat merupakan perluasan alami, bukan proyek modal yang terpisah. Sebab, sistem ini memanfaatkan sumber panas buangan yang sama — mesin biogas itu sendiri, atau boiler yang melayaninya — yang memang sudah tersedia di lokasi.
Inilah tepatnya konfigurasi Recycle Prevention: mengolah aliran samping yang pekat di sumbernya, sebelum amonia tersebut bersirkulasi kembali ke jalur pengolahan limbah utama pabrik. Dengan cara ini, kinerja kolam dan digester yang tidak dirancang untuk beban tambahan tersebut tetap terjaga.


