12th June 2026

JAKARTA – Indonesia terus mempercepat transisi menuju target net-zero emissions. Untuk mendukung upaya tersebut, Organics Bali baru-baru ini bergabung bersama kelompok terpilih yang terdiri dari para pionir bioenergi, lembaga pembangunan internasional, dan operator utilitas. Koalisi ini berkumpul dalam sebuah focus group discussion penting yang membahas masa depan bahan bakar biogas (Bahan Bakar Biogas / BBBg) dan injeksi biomethane ke jaringan pipa gas di Indonesia.

Post Terbaru

Workshop strategis tingkat tinggi ini diselenggarakan pada Selasa, 26 Mei 2026, di Novotel Jakarta Cikini. Acara ini berhasil mempertemukan para pembuat kebijakan utama dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta GIZ. Turut hadir pula para pengembang proyek biogas terkemuka dari sektor swasta dan operator industri perkebunan di Indonesia.

Diskusi berfokus langsung pada pembentukan kerangka komersial dan perdagangan untuk renewable natural gas (RNG). Kerangka ini akan mendukung implementasi Peraturan Pemerintah (PP) No. 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Yang tidak kalah penting, kegiatan ini mendapat dukungan strategis dari program Project REDD+ RBP GCF Output 2.

Forum ini mengungkap berbagai perdebatan teknis penting, hambatan regulasi, serta jalur komersial yang dibutuhkan untuk memungkinkan injeksi gas terbarukan ke dalam jaringan gas nasional Indonesia.

Panduan Regulasi: Upgraded Biogas vs. Natural Gas

Salah satu perdebatan utama berfokus pada pertanyaan apakah regulasi utilitas biometana memerlukan kerangka aturan yang benar-benar baru dan berdiri sendiri, atau justru perlu diintegrasikan ke dalam regulasi natural gas yang sudah ada.

Mayoritas peserta mendukung pendekatan integrasi. Setelah melalui proses upgrading, biomethane pada dasarnya memiliki karakteristik yang sama dengan natural gas konvensional. Oleh karena itu, para peserta sepakat bahwa membuat regulasi yang sepenuhnya terpisah hanya akan menambah kompleksitas birokrasi yang tidak diperlukan. Sebagai gantinya, industri mendorong agar standar natural gas yang sudah ada dapat diadaptasi untuk mengakomodasi renewable gas dan interkoneksi jaringan gas.

Membuka Akses ke Jaringan Pipa: Sertifikasi dan Green Gas Accounting

Seiring meningkatnya minat untuk menginjeksikan biomethane langsung ke infrastruktur pipa gas Indonesia, para pemangku kepentingan membahas salah satu tantangan administratif terbesar, yaitu pelacakan kepemilikan gas.

“Setelah biomethane masuk ke dalam jaringan pipa gas, secara fisik biomethane tidak dapat dibedakan lagi dari natural gas konvensional.”

Melacak molekul gas terbarukan secara individual di dalam jaringan pipa bersama secara fisik tidak mungkin dilakukan. Oleh karena itu, forum menyimpulkan bahwa kepemilikan harus dikelola secara administratif. Hal ini dapat dilakukan melalui sistem sertifikasi biomethane dan mekanisme green accounting, seperti model book-and-claim yang telah diterapkan secara internasional.

Para peserta juga menyoroti bahwa pembeli internasional memiliki permintaan yang tinggi terhadap klaim gas terbarukan yang tersertifikasi. Mereka menyarankan agar Indonesia mengacu pada kerangka kerja global yang sudah terbukti berhasil—khususnya implementasi di Jerman—daripada membangun sistem baru dari nol.

Perdebatan Teknis: Oksigen, Kelembapan, dan Korosi Pipa

Meskipun seluruh peserta sepakat bahwa upgraded biomethane secara teknis kompatibel dengan sistem natural gas yang ada, muncul perdebatan yang cukup tajam terkait spesifikasi kualitas gas, khususnya batas kandungan Oxygen (O₂) dalam biomethane.

Perdebatan ini mencerminkan benturan klasik antara aspek ekonomi proyek dan umur panjang infrastruktur.

Stakeholder Group : Biogas Developers & Traders

Perspektif & Kekhawatiran Teknis

Mewajibkan proyek untuk menurunkan kandungan oksigen hingga di bawah 1% akan meningkatkan biaya biogas upgrading secara signifikan. Beban finansial ini berpotensi mengganggu keekonomian proyek dan menghambat investasi swasta yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan sektor ini.

Stakeholder Group : Grid Operators (PGN & TGI)

Perspektif & Kekhawatiran Teknis

Perusahaan Gas Negara (PGN) dan PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) mengingatkan bahwa keberadaan oksigen dapat menimbulkan risiko korosi internal jangka panjang yang serius. Karena jaringan pipa di Indonesia sering kali mengalirkan wet gas yang masih mengandung kelembapan, kombinasi antara O₂ dan air dapat mempercepat degradasi pipa secara signifikan.

Hambatan engineering yang sangat penting ini diidentifikasi sebagai area prioritas yang memerlukan kajian teknis khusus sebelum standar injeksi biomethane ke jaringan pipa dapat ditetapkan secara nasional di Indonesia.

Mengatasi Hambatan Komersial dan Akses Infrastruktur

Regulasi yang berlaku saat ini secara eksplisit hanya mengizinkan gas fosil konvensional untuk masuk ke jaringan pipa nasional. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, diskusi bersama Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (DJ Migas / Ditjen Migas) mengklarifikasi bahwa produsen biomethane yang ingin mendapatkan akses injeksi ke jaringan pipa perlu melakukan negosiasi perjanjian komersial secara langsung dengan pemilik dan operator infrastruktur yang sudah ada.

Selain itu, masih dibutuhkan kejelasan lebih lanjut terkait hak alokasi gas serta apakah produsen renewable gas wajib memperoleh persetujuan alokasi formal dari kementerian, sebagaimana yang saat ini berlaku bagi pelaku industri gas konvensional.

Bermitra untuk Masa Depan: Organics Bali sebagai Perusahaan EPC Biogas Terkemuka di Indonesia

Seiring mulai terbentuknya kerangka regulasi dan teknis untuk injeksi biomethane ke jaringan pipa, memenuhi spesifikasi kualitas gas yang ketat serta persyaratan engineering yang kompleks membutuhkan mitra yang berpengalaman dan terpercaya.

Sebagai perusahaan Engineering, Procurement, and Construction (EPC) biogas yang menyediakan solusi menyeluruh, Organics Bali memanfaatkan lebih dari 30 tahun pengalaman grup secara global serta rekam jejak yang kuat di Indonesia untuk menghadirkan solusi end-to-end. Mulai dari industrial anaerobic digester berperforma tinggi (yang mengolah feedstock seperti POME, chicken manure, dan limbah pertanian) hingga biogas upgrading plant yang dirancang secara khusus untuk produksi biomethane, Organics Bali memastikan aliran gas Anda siap memenuhi kebutuhan komersial.

Didukung oleh unit kontraktor teknis khusus kami, PT Organicsindo Konstruksi Energi (OKE), kami menangani seluruh pelaksanaan proyek di lapangan, instalasi profesional, serta pengujian keselamatan yang ketat. Sistem kami—yang dilengkapi proprietary gas purification, H₂S bioscrubber, dan advanced safety flare—secara khusus dirancang untuk memenuhi standar jaringan pipa yang ketat sekaligus memaksimalkan keuntungan ekonomi proyek Anda.

Langkah Selanjutnya: Membangun Pemahaman Institusional

Meskipun target nasional biomethane Indonesia saat ini masih relatif terbatas, forum menegaskan bahwa sektor ini memiliki peluang strategis yang sangat besar untuk mendukung dekarbonisasi industri dan aplikasi bahan bakar transportasi, seperti Bio-CNG dan Bio-LNG.

Karena biomethane masih dianggap sebagai sektor yang relatif baru oleh banyak regulator di Indonesia, pertemuan ini ditutup dengan seruan kuat untuk terus melanjutkan dialog dan kolaborasi. Bagi para pionir seperti Organics Bali, langkah ke depan mencakup keterlibatan aktif dengan DJ Migas, berbagi data pasar secara berkelanjutan, serta berkolaborasi dalam proyek percontohan untuk membuktikan bahwa green gas dapat menjadi solusi energi masa depan Indonesia yang aman, terjangkau, dan sesuai regulasi.

Ingin Menghitung Potensi Penghematan dari Pabrik Anda?

Dapatkan Industry Briefing eksklusif mengenai roadmap teknologi Bio-LNG dan Compressed Biomethane, lengkap dengan Biogas Upgrading Investment Feasibility Calculator untuk memperkirakan potensi konversi limbah POME menjadi bahan bakar bagi armada transportasi Anda.

 

Hitung estimasi biaya investasi, potensi keuntungan, dan dampak lingkungan dari proyek biogas upgrading Anda secara cepat dan praktis.