Pada 28 Oktober 2026, PT Organics Bali bergabung dalam sebuah panel di Biomass, Biochar, Biogas & SAF Asia Summit 2026 di Jakarta. GEMC Global menyelenggarakan acara dua hari ini di Hotel Novotel Jakarta Pulo Mas. Senior Sales Manager kami, Tajuddin Maksum, berbicara dalam panel bertajuk “Where Will Indonesia’s Biogas Go? Grid, Fuel, Carbon, and Beyond.” Sakti Siregar, Wakil Ketua Asosiasi Biogas Indonesia (ABgI), memandu sesi tersebut.

Apakah Biogas untuk Listrik Masih Menarik di Indonesia?

Perpres 112/2022 memberikan kerangka pasar yang lebih jelas. Peraturan ini menetapkan batas tarif dan jalur pengadaan yang pasti, sehingga menjadi langkah positif. Namun, tarif saja tidak menentukan keberhasilan proyek. Lokasi proyek justru jauh lebih berpengaruh.

Biogas untuk listrik paling cocok di lokasi dengan harga listrik yang mahal. Ukuran pabrik dan jarak ke jaringan listrik juga berperan. Pada kondisi lain, pemilik sering memperoleh nilai lebih baik dari co-firing di boiler atau dari peningkatan mutu biogas menjadi biometana. Sebagai contoh, salah satu proyek POME terbaru kami memakai co-firing, karena opsi itu paling sesuai dengan lokasinya.

Jadi, apakah biogas untuk listrik masih menarik? Ya, tetapi lebih selektif dibanding sebelumnya. Dalam jangka panjang, mutu gas yang andal dan pengendalian hidrogen sulfida (H₂S) sama pentingnya dengan desain itu sendiri.

prosesAD

Mengapa Nilai Siklus Hidup Lebih Penting daripada Harga Awal?

Pembangkit biogas tidak sama dengan aset lain pada umumnya. Fasilitas ini menangani gas mudah terbakar dan H₂S beracun, serta beroperasi terus-menerus selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, memangkas mutu atau keselamatan demi biaya awal yang lebih rendah biasanya berbalik merugikan. Pemilik kemudian menghadapi lebih banyak waktu henti, perawatan yang lebih mahal, insiden keselamatan, dan mutu gas yang lebih buruk. Pada akhirnya, masalah ini menekan imbal hasil proyek dan data karbon juga. Karena itu, kami mendorong pemilik menilai proyek dari nilai siklus hidup, bukan dari harga awal terendah.

Tren Apa yang Membentuk Pasar Biogas dan Biometana Indonesia?

Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat empat tren. Kami memperkirakan keempatnya terus tumbuh. Pertama, pasar bergeser dari listrik ke molekul. Bio-CNG dan Bio-LNG kini melayani transportasi dan panas industri, sehingga mendukung dorongan B50 untuk mengurangi impor bahan bakar fosil. Kedua, industri makin banyak memakai biogas di lokasi sendiri, dengan kepatuhan karbon dan kebijakan pengolahan sampah menjadi energi sebagai pendorong. Ketiga, basis bahan baku meluas dari POME ke singkong, agroindustri, peternakan, dan limbah organik industri. Keempat, rantai nilai makin terpadu, sehingga energi, pemulihan nutrisi, dan karbon bekerja bersama.

prosesAD

Apa yang Dibutuhkan Pasar Biogas Indonesia agar Berkembang?

Sebagai mitra teknologi, kami melihat tiga hal yang dapat mempercepat proyek. Pertama, kepastian tarif memberi investor rasa percaya diri. Kedua, standar mutu biometana yang jelas membuka jalan bagi pemakaian lebih luas. Ketiga, jalur penyerapan hasil (offtake) yang pasti membantu pengembang merencanakan dengan risiko lebih rendah. Bersama-sama, langkah ini akan mendukung target nasional bauran energi terbarukan dan pengurangan metana.

 

Bagaimana Organics Bali Membangun Proyek Biogas Siap Karbon?

Karbon penting dalam setiap proyek yang kami rancang. Oleh karena itu, kami membangun setiap pembangkit agar siap karbon, lengkap dengan pengukuran, pencatatan, dan dokumentasi yang tepat. Pendekatan ini membantu pemilik dan mitra verifikasi bekerja lebih efisien. Pemilik dan mitra spesialis menangani pendaftaran serta verifikasi, sedangkan kami berperan sebagai mitra teknis mereka.

Tetap Aktif dalam Percakapan Biogas Indonesia

Summit ini mempertemukan suara pemerintah, industri, dan teknis dari bidang biomassa, biochar, biogas, dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Panel seperti ini membantu sektor berbagi pelajaran dan menyepakati langkah praktis berikutnya. Kami berterima kasih kepada GEMC Global, ABgI, dan sesama panelis atas diskusi yang produktif. Sementara itu, kami terus menghadirkan proyek biogas, biometana, dan co-firing di sektor kelapa sawit, singkong, dan agroindustri Indonesia.

food waste scaled

Ringkasan

  • Perpres 112/2022 memperjelas tarif dan pengadaan, tetapi lokasi proyek menentukan jalur biogas yang cocok.
  • Biogas untuk listrik tetap menarik, tetapi lebih selektif dibanding sebelumnya.
  • Co-firing di boiler dan biometana sering lebih cocok bagi lokasi yang kurang sesuai untuk listrik.
  • Nilai siklus hidup, mutu gas, dan pengendalian H₂S menjaga imbal hasil jangka panjang.
  • Empat tren: dari listrik ke molekul, pemakaian industri yang lebih luas, bahan baku yang beragam, dan rantai nilai terpadu.
  • Agar berkembang, pasar butuh kepastian tarif, standar mutu biometana yang jelas, dan jalur offtake yang pasti.