Pada Konferensi dan Pameran EBTKE Indonesia ke-12 (IndoEBTKE ConEx) 2026 di Jakarta, pembahasan soal transisi energi terbarukan Indonesia tidak lagi terbatas pada tenaga surya dan angin. Satu topik justru menonjol: sampah makanan. Semakin banyak pelaku industri kini melihatnya sebagai sumber energi terbarukan yang nyata.

Sorotan pada Pemulihan Sampah Makanan

Pada Sesi Paralel 4, “Biomassa dan Biogas Berbasis Komunitas,” Wolfgang Goetz mewakili PT Organics Bali sebagai pembicara. Ia memaparkan wawasan tentang pemulihan sumber daya dari sampah makanan dan teknologi biogas dalam pengelolaan sampah padat perkotaan.

Paparannya menyoroti tantangan besar. Indonesia menghasilkan sekitar 35 hingga 38 juta ton sampah padat perkotaan setiap tahun. Sebagian besar sampah ini bersifat organik, namun hanya sedikit yang dimanfaatkan kembali. Akibatnya, sampah ini menyimpan potensi besar bagi energi terbarukan.

prosesAD

Bagaimana Anaerobic Digestion Mengubah Sampah Menjadi Energi

Anaerobic Digestion menguraikan sampah makanan menggunakan bakteri alami, bukan pembakaran. Proses ini berlangsung di dalam tangki tertutup tanpa oksigen. Proses tersebut menghasilkan biogas sebagai hasil alami.

Biogas dapat memenuhi beberapa kebutuhan. Pertama, biogas dapat menghasilkan listrik dan panas langsung di lokasi. Selain itu, fasilitas peningkatan mutu dapat mengubahnya menjadi biometana atau Bio-CNG untuk penggunaan bahan bakar yang lebih bersih. Sementara itu, sisa material yang disebut digestat membuka peluang bagi pemulihan nutrisi lebih lanjut.

prosesAD

Dari Pembuangan Sampah Menuju Pemulihan Sumber Daya

Pengelolaan sampah dan energi terbarukan tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, keduanya dapat bekerja bersama dalam satu sistem.

Ketika kota memilah sampah organik sejak dari sumbernya, mereka meraih tiga manfaat sekaligus. Mereka mengurangi volume sampah ke tempat pembuangan akhir. Mereka menghasilkan energi terbarukan. Mereka juga memulihkan nutrisi berharga bagi pertanian. Singkatnya, pemilahan sejak sumber mengubah biaya pembuangan menjadi peluang sumber daya.

 

Mengapa Perubahan Ini Penting bagi Indonesia

Bagi Indonesia, ini menandai perubahan besar. Pola pikir bergeser dari “pembuangan sampah” menuju pemulihan sumber daya yang sesungguhnya. Akibatnya, sampah organik kini dapat menjadi bagian dari bauran energi terbarukan negara ini, sejajar dengan tenaga surya dan angin.

Perubahan ini juga selaras dengan target transisi energi Indonesia yang lebih luas. Kota dan industri menghadapi tekanan yang terus meningkat untuk mengelola sampah secara berkelanjutan. Digesti anaerobik menawarkan solusi praktis atas tekanan tersebut.

 

Sampah Makanan sebagai Aset Energi Lokal

Sampah makanan bukan sekadar masalah yang harus dikelola. Sebaliknya, sampah ini dapat menjadi sumber energi terbarukan, nutrisi, dan nilai ekonomi di tingkat lokal.

PT Organics Bali tetap berkomitmen mengembangkan solusi ini di berbagai sektor industri dan perkotaan Indonesia. Keikutsertaan kami dalam forum seperti IndoEBTKE ConEx 2026 mencerminkan komitmen tersebut. Partisipasi ini juga memperkuat dialog kami dengan mitra, regulator, dan pemangku kepentingan industri yang turut membentuk masa depan energi terbarukan Indonesia.

food waste scaled